Menjadi Manusia yang Biasa Aja
Judul diatas cukup menggelitik buatku, pembahasan yang akhir-akhir ini kutemui di platform sosial media. Menjadi manusia yang biasa aja. Lebih sering membahas tentang bagaimana kita memandang hidup kita sendiri tanpa terlalu membanding-bandingkan dan membuat standardisasi yang muluk-muluk.
Lulus kuliah lalu bekerja di perusahaan ternama atau menjadi pegawai negeri, umur 25 sudah bisa traveling kesana kemari, melanjutkan S2 diluar negri dengan beasiswa bergengsi, menjadi pemuda yang menorehkan prestasi disana sini, menjadi tokoh yang sering mengisi acara dan bertemu orang penting diberbagai kota, lengkap dengan dokumentasi dan captionnya yang nampak sumringah nan bahagia.
Rasanya sudah biasa kita menemukan hal serupa, yang awalnya menginspirasi namun ada kalanya justru membuat rendah diri. "Aku mah apa masih gini-gini aja".
Aku yakin para gen z yang sering banget berinteraksi dengan sosial media dan mulai memiliki beban dan tanggungan pasti pernah merasakan. Ngakuuuuu gaaaa🫵
Aku mencoba melihat ini dari berbagai sisi.
Kalau dilihat dari judul, point nya adalah menjadi "biasa". Tentunya benar tidaknya tergantung apa yang dibahas dan pandangan orang tentang menjadi biasa juga berbeda-beda. Aku rasa menjadi biasa dengan tidak menjadikan orang lain sebagai standard adalah benar dan aku sangat sepakat. Saat ini kita seakan-akan diganggu dengan berbagai informasi secara masif baik yang kita butuhkan ataupun tidak. Maka menjadi biasa saja dengan tidak membandingkan orang lain adalah skill yang amat penting dan bijak.
Namun, ketika kita menjadikan kata "biasa" sebagai tameng atas sebuah kemalasan panjang dan rasa tidak bertanggung jawab maka menurutku itu hal yang salah. "Yaudahlah ya ga usah usaha apa-apa toh baik juga jadi manusia biasa aja". Nah ini lain lagi.
Pada intinya menjadi orang pertengahan itu penting. Nyatanya tak semua quotes/ slogan dapat dijadikan pedoman untuk semua keadaan. Seperti halnya pembahasan mental health yang penting mendapat perhatian, tapi terlalu mengelu-elukan kesehatan mental bahkan diatas sebuah kesalahan justru menjadi bumerang. Tapi ya tetap penting juga. Tapi jangan terlalu. Pokoknya mah begitu, tengah-tengah.
Kesimpulan dan penutupnya adalah jadilah manusia biasa tapi jadi luar biasa juga boleh. Toh yang kita kira biasa aja bisa jadi menurut orang luar biasa. Atau yang kita kira luar biasa menurut orang biasa aja. Kalau prinsipku, berusaha lakukan yang terbaik. Entah itu menjadi hal yang biasa atau luar biasa dimata orang lain.
Sekian, sedikit celoteh di tengah malam nan sunyi menanti mata terlelap.
Komentar
Posting Komentar