Hari untuk menangis
"Apa kabar jiwamu?" Pertanyaan yang jarang kulontarkan pada diri sendiri. Kalaupun pernah seringkali kuanggap seperti kalimat basa-basi. " Baik" Jawaban spontan tanpa benar-benar melihat kondisi diri. Hari ini aku butuh menangis. Kantung mataku penuh tapi air mata susah keluar. Dadaku sesak, pikiranpun juga runyam. Detik demi detik penuh dengan kekhawatiran dan seketika pusing. Seringkali perjalanan pulang dengan motor menjadi waktu terbaik untuk aku bercerita. Ya, bercerita tentang hariku yang didengar telingaku. Sembari melihat sekeliling yang nampaknya orang-orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau terkadang melihat hal menarik seperti menemukan tulisan lucu atau ekspresi tak biasa. Sekarang aku sedang di kamar dalam keheningan menyiapkan diri untuk menangis. Namun sudah setengah jam air mata tak kunjung mengalir. Aku stimuli dengan kalimat-kalimat yang menguatkan atau renungan untuk diri sendiri. Ahh susah sekali. Aku masih mencoba untuk menangis..