Uang dan Segala Pendewasaannya
Semakin dewasa, ada hal yang cukup berubah denganku. Atau mungkin banyak orang lain yang juga mengalaminya. Tentang keuangan. Melewati masa-masa 20an awal hingga akhir bak babak baru yang tidak akan terulang, panik dan kaget sudah harus dilewati sehari-hari. Mungkin itulah yang disebut pendewasaan. Hal serupa juga berubah mengenai pandanganku tentang uang. Kini uang tak hanya tentang jumlah, tapi juga mindset.
Hal yang selalu kuingat sebuah pesan dari ibu untuk segera menyelesaikan setiap urusan perihal uang. Tentang pembayaran, pinjaman, pembelian dsb. Katanya, uang adalah hal yang sering disepelekan, padahal itu bisa menjadi masalah besar jika tak diselesaikan. Bahkan hubungan bisa renggang perihal uang.
Belum tamat aku belajar tentang keuangan, fenomena saat ini makin menambah permasalahan keuangan. Apalagi kalau bukan pinjol (pinjaman online), rasa-rasanya minimal 1x sehari kita temukan iklan pinjol di layar hp. Pinjaman yang sangat mudah diperoleh, memudahkan pula untuk berutang. Semakin susah lagi menentukan antara kebutuhan dan keinginan. Muncul lagi pembayaran paylater yang semakin menggoda untuk membeli barang, padahal uangnya saja belum ada. Merasa dibodohi dengan iming-iming seperti ini. Tak terhitung sudah berita orang bunuh diri karena terlilit pinjol.
Maka lagi-lagi uang adalah tentang mindset, uang hanya benda mati yang bergerak mengikuti mindset tiap individu. Diantara mindset yang aku dapat :
1. Dahulukan bersyukur terlebih dahulu, banyak melihat apa yang sudah kita punya daripada yang belum. Bersyukur membuat kita lebih tenang dan nafsu tidak mendominasi untuk memutuskan suatu hal.
2. Buka sebanyak-banyaknya pintu rejeki, bahkan dari hal-hal yang kecil. Ibarat untuk memenuhi ember semakin banyak keran maka akan semakin mudah untuk penuh.
3. Rencanakan keuangan sebelum membelanjakan. Menurutku ini cukup efektif agar tidak ada rasa penyesalan saat uang berkurang. Semua keputusan harus dibawah kesadaran, termasuk hal-hal yang bersifat hiburan atau self reward.
4. Belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Tunda keinginan jika memang belum mampu, jangan kemakan gengsi dan jadwalkan untuk menabung jika dirasa perlu.
5. Meninggalkan segala bentuk pinjaman online, paylater, atau riba. Apalagi sebagai muslim meninggalkan riba adalah suatu perintah, perdalam kembali bahasan mengenai riba, kerugiannya, seperti apa pandangan dalam agama insyaaAllah semakin memantapkan hati untuk menjauhi.
6. Saat butuh pinjaman uang, berhutanglah dengan orang yang dikenali dan tanpa bunga. Permasalahan hutang harus jelas waktu pengembaliannya dan ditulis. Selain itu pinjam sesuai kebutuhan, dan bertekad untuk menjaga amanah orang yang meminjamkan. Jangan lupa berdoa semoga dibukakan pintu rejeki untuk menyelesaikan hutang dan dicukupkan kebutuhan kita.
7. Belajar bersedekah, melatih bersedekah membuat belajar untuk tidak terlalu mendewakan uang.
8. Yang terakhir menurutku yang penting banget adalah kita harus hidup dengan kondisi diri kita, bukan standar orang lain. Ini bukan hal yang mudah, tapi perlu dilatih, ibarat skill yang harus dikuasai di abad ini wkwkwk.. karena menurutku hidup ini sebenernya simpel, tapi keinginan memenuhi ekspektasi itu yang bikin hidup ribet.
Waw, akupun tercengang membaca tulisanku. Apakah aku sudah jago mengurus keuanganku, tentu saja belum ferguso. Lima tahun yang lalu bahkan aku adalah anak yang mudah berhutang untuk keinginan. Meskipun aku membayarnya, tapi menurutku itu menjadi siklus hidup yang menyengsarakan dan tidak sehat. Sekarang bertaubat dan ingin hidup lebih enjoy dan tenang. Kebayang kalau mendadak meninggal, sepertinya akan ribet sekali mengurus perhutangan jika masih masuk disiklus yang lama. Yap, lagi-lagi karena ingin hidup didunia dan diakhirat yang lebih tenang. Bismillah..
Komentar
Posting Komentar